Deru debur pantai pada malam itu sangat terasa, apalagi ditambah dengan ombak yang sesekali memecah keheningan malam. Angin sepoi-sepoi menyentuh dahan kelapa dengan lembutnya, namun terasa menusuk di kulit. Aku masih duduk di tepi jembatan pantai, sendirian. Hanya sweater dusty ungu yang melekat dan menghangatkan tubuhku. Mungkin apa yang sedang aku lakukan saat ini terbilang bodoh. Ya, karena aku sedang menunggu seekor ah tidak, mungkin seorang siren. Terdengar tidak masuk akal bukan ? Memang, tapi itulah kenyataannya. Aku menunggu seorang siren yang akan kembali dari perburuannya.
Pertemuan kita bisa dibilang tidak sengaja atau mungkin memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk bertemu. Kala itu, seluruh teman-temanku dihebohkan oleh penemuan seorang siren berjenis laki-laki di tepi jembatan. Banyak yang penasaran dan mencoba untuk menyentuhnya tapi sayang tak ada yang berhasil karena terhalang oleh dinding yang tak kasat mata. Aku pun mulai memberanikan diri untuk menyentuhnya. Aneh, tanganku dapat menjangkau rambutnya bahkan mulai membelainya seakan dinding tersebut sirna. Tiba-tiba tangannya memegang tanganku, dia mulai membuka mata. Aku mulai ketakutan namun tak ada yang bisa kulakukan. Semua teman-temanku berteriak dan sebagian melarikan diri. Dengan mata merahnya dia menatapku sembari menuntun tanganku untuk menyentuh wajahnya. Dia mulai menyunggingkan senyuman kecil sambil memejamkan matanya. Seketika rasa takutku mulai menghilang dan hanya rasa tenang yang kurasakan. Selang beberapa menit, aku mendengar suara nyaring dari lepas pantai. Aku tak tahu apa itu namun seketika itu dia membuka matanya. Kami beradu pandang dan mengarahkan telapak tanganku ke bibirnya. Dia mencium lembut seakan tanda perpisahan lalu membiarkan tubuhnya tertelan oleh dinginnya lautan. Untuk sesaat aku terbius oleh pesonanya, jantungku berdegup cukup kencang, pikiranku kosong, siapa dia. Mengapa dia bisa membuatku seperti ini ? Bukankah dia hanya seorang siren biasa. Namun, tanya tinggallah tanya dan aku pun meninggalkan tempat tersebut dengan keheranan yang tak berkesudahan.
Hari demi hari, kami selalu bertemu di tempat yang sama saat malam tiba. Kami sering menghabiskan waktu bersama sebelum matahari mulai terbit dan kami pun semakin dekat satu sama lain. Berbagi canda, tawa, hingga rahasia. Jujur saja aku merasa sangat aman berada di sampingnya hingga di satu malam dia memberitahuku bahwa malam itu adalah malam terakhir kita bertemu.
“Aku tidak bisa lagi menemanimu seperti malam-malam sebelumnya.”
“Oh, mengapa ? Apa yang terjadi ?” Tanyaku yang mulai gelisah
“Aku harus melakukan tradisi perburuan, paling cepat sampai gerhana bulan total aku bisa kembali.” Jelasnya sambil tersenyum kepadaku.
Aku hanya terdiam. Tak bisa berkata apapun. Ini adalah kali pertama aku benar-benar sendiri. Aku sudah terbiasa bersama dengannya. Akankah semuanya akan tetap sama sampai kau kembali ?
“Kau tidak perlu khawatir. Saat kau rindu genggamlah ini, aku sudah membuatnya untukmu.” Katanya sambil memberikan kalung mutiara berwarna biru laut yang berkilau. “Boleh aku pasangkan ini di lehermu ?”
Aku pun mengangguk dan merubah posisi dudukku. Setelah selesai aku kembali ke posisi dudukku.
“Sangat cantik.” gumamnya
“Kau bilang apa ?” Tanyaku
“Ehem, tidak ada.” Jawabnya sambil mengalihkan pandangan dengan wajah sedikit memerah.
Setelah itu, dia berpamitan kepadaku. Dia memelukku sangat erat dan cukup lama. Aku sangat berharap malam itu bisa lebih panjang dari biasanya. Dengan perlahan, dia melepaskan pelukannya. Sambil tersenyum kepadaku, tubuhnya mulai masuk ke dalam lautan sampai hilang tak berbekas. Aku masih tertegun disana dengan nafas yang mulai sesak. Aku tahu ini berat tapi aku pasti bisa melaluinya.
Dan kini, tepat di malam gerhana bulan total aku menantinya di tepi jembatan. Aku hampir putus asa karena dia tak kunjung datang menemuiku.
“Apakah dia sudah melupakanku ? Ini sudah lewat tengah malam dan dia belum muncul.” tanyaku dalam hati dengan gelisah.
Aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan yang tidak karuan dan air mata yang menggunung di pelupuk mata. Tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakang. Langkahku terhenti. Aku mengenal suara ini. Aku berbalik dan mendapati dirimu yang sudah berdiri tegak tepat dimana kita terakhir berpisah. Air mataku tak lagi bisa ku bendung tatkala kau membuka kedua tanganmu dengan lebar. Aku berlari dan langsung hanyut dalam pelukanmu. Pelukan ini masih sama, sama saat terakhir berpisah dulu.
“Aku kembali untukmu.”
“Aku tahu, makanya aku menantimu.” ucapku lirih.
Derasnya ombak lautan yang memecahkan karang menjadi saksi bisu kerinduan kami berdua.
No comments:
Post a Comment